Foto Dosen
SISTER Verified

Caesar Kridha Bagus Prahartiko, S.Kep., M.Kes,

Air

Catatan Tri Dharma

Mengenal Sick Building Syndrome (SBS): Ketika Bangunan Justru Membuat Anak Sakit

Rabu, 19 Agustus 2026

Apa Itu Sick Building Syndrome? SBS adalah kondisi medis di mana penghuni sebuah bangunan (rumah, sekolah, hingga fasilitas kesehatan) mengalami gangguan kesehatan akut dan rasa tidak nyaman yang berhubungan langsung dengan durasi waktu di dalam bangunan tersebut, tanpa ada diagnosis penyakit spesifik. Di ranah manajemen fasilitas kesehatan maupun lingkungan tempat tinggal, sindrom ini menjadi indikator utama buruknya Indoor Air Quality (IAQ).

Mengapa Sebuah Bangunan Bisa "Sakit"? Bangunan, sama seperti makhluk hidup, membutuhkan "sistem pernapasan" yang baik. Bangunan menjadi sakit ketika udara terperangkap di dalamnya akibat beberapa faktor:

  • Desain Kedap Udara: Tren desain ruangan modern yang sangat tertutup untuk efisiensi pendingin ruangan (AC), yang sayangnya meminimalkan masuknya udara segar dari luar.

  • Kelembapan dan Spora Tersembunyi: Rembesan air dari atap atau kebocoran pipa di balik dinding yang tidak disadari dapat memicu pertumbuhan koloni jamur (mold), yang sporanya terus beterbangan di udara.

  • Akumulasi Zat Kimia: Penumpukan emisi Volatile Organic Compounds (VOCs) yang menguap dari karpet baru, perekat lantai, partikel cat, hingga residu mesin fotokopi di lingkungan sekolah.

Mengenali Gejala SBS pada Anak Gejala SBS pada anak sering kali mengecoh dan disalahartikan sebagai flu biasa. Tanda-tanda yang perlu diwaspadai meliputi:

  1. Iritasi pada selaput lendir (mata merah muda, hidung beringus, tenggorokan gatal).

  2. Gejala neurotoksik ringan (kelelahan tanpa sebab, mengantuk terus-menerus, dan penurunan konsentrasi belajar).

  3. Gejala pada kulit (ruam kering atau gatal yang tidak diketahui penyebabnya).

Intervensi Manajemen Lingkungan Sebagai bentuk pencegahan dasar, menjadwalkan pembersihan filter AC dan sistem HVAC secara ketat adalah wajib. Selain itu, pastikan bangunan memiliki "jam bernapas"—waktu di mana semua jendela dan pintu dibuka lebar agar terjadi pertukaran volume udara secara total, sehingga bangunan tidak mengurung polutan yang mengancam kesehatan anak.

Daftar Referensi:

  • Joshi, S. M. (2008). The sick building syndrome. Indian Journal of Occupational and Environmental Medicine, 12(2), 61–64.

  • Lu, C., et al. (2016). Building-related symptoms among university students in relation to indoor environmental quality. Indoor Air, 26(2), 268-278.

  • U.S. Environmental Protection Agency (EPA). (2019). Indoor Air Facts No. 4 (revised) Sick Building Syndrome (SBS).

Artikel Terkait

Hasil Karya Produk Digital
Home TriDharma Produk